Saya tau, masa lalu memang penting. Tapi memang tidak bijak jika menganggapnya sebagai pendominasi hidup. Kan?
Well, ini baru nulis lagi karena beberapa orang bertanya mengapa saya udah ga pernah nulis lagi di blog. Haha, boro-boro nulis, ini pertama kalinya saya buka blog ini setelah postingan terakhir saya. Ternyata ada pembaca setia saya. haha. Hello there!
Postingan kali ini mungkin akan berbau perasaan. Tapi tidak menggalaukan. Chill.
Setahun merantau, saya kembali ke kampung halaman dengan sebuah misi. Memperbaiki silaturrahmi dengan semuanya. Teman SD, SMP, SMA, S1, sepupu, ayah, ibu, adik. Ya, saya merasa setahun ini hubunganku dengan mereka tidak begitu baik. Tenggelam dengan kesibukan kuliah, membuatku lupa menyapa, berterima kasih & minta maaf kepada mereka. Mereka jauh dan aku semakin menjauh. So, setelah 3 minggu nostalgia & menikmati kehangatan tiap sudut rumah, I'm ready to meet them all. I'll post more about it later, okay. :)
Saya menganalisis postingan blog ini. Sepertinya postingan tahun 2011-2012 adalah yang paling labil. Well, sebagian besar sih memang postingan galau. Hahahaha.
Jul 10, 2015
Aug 25, 2014
Last letter for you, boy..
Your last message said everything.
You don't even recognize me. I guess that's the last time I manage to talk to you. May be you don't want to talk to me like we're used to, or don't even want to know me in your lifetime.
So, I'm better off.
This time, i leave my hometown sincerely and let the wind takes all memories about you..
Jul 1, 2014
Alhamdulillah..
Setelah beberapa minggu yang feels like years menunggu keputusan, akhirnya pengumuman itu keluar juga. Alhamdulillah, saya diterima di Universitas Negeri Malang program pascasarjana *sujudsyukur*. Sebuah kabar yang sangat membahagiakan di Ramadhan ketiga ini. Saya ucapkan selamat kepada teman-teman yang lulus seleksi masuk pascasarjana UM. Ini gerbang awal perjuangan baru kita. Buktikan kepada orangtua dan orang terkasih bahwa keputusan yang kita pilih ini dapat membuka pintu kesuksesan.
Beberapa hari sebelum pengumuman sebenarnya saya sempat ragu. Ada banyak pilihan, ada banyak plan yang kubuat. If A isn't working, i still have B, C, D.. Tapi perlahan rencana yang kubuat itu gugur seiring bergantinya hari. Hingga yang tersisa hanya plan B. Kalo saya tidak lulus, saya akan coba ikut gelombang 2. Pilihan yang seharusnya cukup mudah untuk dilakukan. Hanya saja, perasaan telah mengecewakan dan tidak enak kepada orang tua itu sudah menghantui lebih dulu. Musti minta duit lagi ibu buat biaya pendaftaran itu ga sedikit. Mana sekarang juga lagi bulan puasa, pengeluaran membengkak, adik-adik mau bayar uang kuliah, dah ah masih banyak lagi yang membuat saya agak setengah hati mengikuti gelombang 2. Maka dari itu, saya merasa hanya kesempatan inilah yang kupunya. Berbekal itu, hanya berdoa yang bisa kulakukan. Memohon agar namaku terselip diantara ratusan peserta yang lulus. Hanya itu doaku. Sampai satu malam, saya berhenti memohon hal itu. Saya merenung, membayangkan bagaimana jika lulus, bagaimana jika tidak lulus. Saya bertanya pada diri sendiri, "apakah saya siap?"
Ya, saya sering sulit menjawab pertanyaan yang kubuat untuk diri sendiri. Siapkah saya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa pascasarjana? Ragu. Ya, saya meragukan kesiapanku. Ragu karena tidak siap dengan biaya, tidak siap mental, tidak siap wawasan. Ragu dengan hasil tesku yang bersaing dengan ratusan pendaftar. Oh..
Namun jika ini jalan tercepat untukku membahagiakan orangtuaku, bantulah hamba, ya Rabb..
Jika tidak lulus, itu berarti pintu rejekiku bukan disitu. Bismillah, ketuk pintu lain. Namun, jika lulus, artinya kesempatan untuk membahagiakan orangtua sudah dibukakan oleh Allah lebih cepat. Harus dilakoni dengan sepenuh hati. Buktikan! Buktikan jika langkah yang kau pilih ini memang tidak salah.
***
Rencana Allah selalu lebih indah dari rencana kita yang terindah.
Subscribe to:
Posts (Atom)